November 30, 2018

Peringatan untuk keluarga korban Lion Air Penerbangan 610 – hati-hati dengan pengacara tidak etis

Salah satu pengacara penerbangan terkemuka di dunia memperingatkan keluarga korban Lion Air Penerbangan 610 untuk berhati-hati dalam melindungi hak-hak hukum mereka.

Kepala Firma Hukum Wisner di Chicago, Floyd Wisner, belum lama ini mengajukan gugatan hukum di AS terhadap Boeing atas nama beberapa keluarga korban Lion Air 610.

Namun, Floyd Wisner mengatakan bahwa Lion Air dan penjamin asuransinya mungkin hanya menawarkan sejumlah kompensasi terbatas kepada keluarga sebagai ganti penandatanganan dokumen yang tidak hanya akan membebaskan Lion Air, tetapi juga Boeing dan pihak-pihak lain yang mungkin bertanggung jawab, dari pertanggungjawaban mereka terhadap keluarga dalam hal ini.

“Menandatangani dokumen seperti itu dapat sangat merugikan keluarga,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan bahwa ada pengacara-pengacara di Indonesia yang secara aktif menghasut keluarga korban untuk melanggar undang-undang federal AS yang melarang kontak apa pun dengan keluarga korban selama 45 hari setelah kecelakaan.

“Keluarga sebaiknya menyelidiki sepenuhnya reputasi dari pengacara-pengacara ini sebelum memutuskan perwakilan.”

Salah satu dari pengacara tersebut adalah Manuel Ribbeck, alias Manuel von Ribbeck dari Illinois, yang kini mendaftarkan kantornya di Peru.

Ribbeck terkenal di kalangan pengacara penerbangan internasional karena tindakannya menghasut keluarga korban kecelakaan pesawat. Telah dilaporkan bahwa dia mengaku sebagai petugas Palang Merah untuk menghasut keluarga korban kecelakaan di Bahama.

Firma hukum Ribbeck dikenai sanksi oleh pengadilan Illinois dan diperintahkan untuk membayar $75,000 kepada Boeing karena mengajukan gugatan yang sembrono akibat hilangnya pesawat Malaysia Air 370.

“Firma Hukum Wisner dengan bangga mendukung keluarga korban dari semua kecelakaan pesawat besar selama tiga dekade terakhir, termasuk di Indonesia, dan kami melakukannya secara etis dan sebagaimana mestinya, selalu bertindak atas dasar kepedulian terhadap korban dan keluarganya, serta kepentingan terbaik mereka,” jelas Floyd Wisner.

Ernie Auliasari dan timnya, Xandra Zulfica dan Yayu Budihati, adalah perwakilan dari Firma Hukum Wisner di Indonesia, yang bertanggung jawab untuk berkoordinasi dan bekerja sama dengan klien firma, keluarga-keluarga korban Lion Air. Situs web khusus telah dibuat untuk memberikan saran – www.lionair610.com.

Bacalah artikel-artikel tentang Firma Hukum Ribbeck di sini

https://blog.seattlepi.com/flyinglessons/2014/04/16/flim-flam-and-shenanigans-characterize-chicago-lawyers-work-in-mh-370-tragedy/

https://www.forbes.com/sites/gradsoflife/2018/11/09/salute-to-skills-workshops-for-warriors-and-hire-heroes-usa-pt-2/#3e6be9663fcf

https://www.chicagotribune.com/news/ct-xpm-2014-03-29-ct-malaysian-flight-crash-lawyers-met-20140330-story.html

Floyd Wisner dapat dimintai komentar media melalui telepon atau Skype.
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

November 23, 2018

Tindakan Hukum Telah Diluncurkan Terhadap Boeing Untuk Kecelakaan Lion Air

Gugatan hukum secara resmi telah diajukan di Pengadilan Distrik Amerika Serikat atas nama keluarga penumpang penerbangan Lion Air 610, yang jatuh ke Laut Jawa menewaskan semua penumpang dan kru sesaat setelah lepas landas pada tanggal 29 Oktober, 2018 lalu.

Salah satu pengacara penerbangan terkemuka di dunia, Floyd Wisner dari Wisner Law Firm yang berbasis di Chicago, telah mengajukan gugatan terhadap The Boeing Co., produsen pesawat Boeing 737 Max 8, dengan dugaan bahwa pesawat tersebut ‘tidak layak dan berbahaya”

Wisner Law Firm berpendapat bahwa pesawat tersebut memiliki fitur kontrol penerbangan yang, apabila mendeteksi adanya ‘high angle of attack’ yang tidak akurat, maka akan memerintahkan gerakan menukik tanpa adanya otorisasi dari kru ataupun atau memberikan pemberitahuan sebelumnya.

Sensor tersebut mengalami kegagalan, terblokir atau terhalang, sehingga memberikan informasi yang tidak akurat kepada sistem kontrol penerbangan tentang adanya ‘angle of attack’ dalam pesawat tersebut.

Juga dikatakan bahwa sistem kontrol penerbangan telah gagal menyaring informasi yang tidak akurat, dan manual penerbangan sebelumnya tidak memberitahukan akan bahaya yang terjadi oleh kerusakan-kerusakan tersebut.

Gugatan mengklaim informasi yang tidak akurat mengakibatkan pesawat pada akhirnya meluncur turun secara berbahaya, tanpa adanya metode ataupun cara bagi kru pesawat untuk dapat mengatasi perintah turun yang tidak benar tersebut secara manual.

Mr Wisner mengatakan keluarga berhak mendapat kompensasi yang layak. “Sudah jelas bahwa kecelakaan ini sepertinya ada di pesawat Boeing, dan kejadian ini telah mengakibatkan penderitaan yang tak terkira untuk keluarga korban, belum lagi beban biaya besar yang harus ditanggung oleh banyak orang”.

Hukum Wisner telah banyak mewakili penumpang dan keluarganya dalam banyak kasus kecelakaan pesawat selama tiga dekade terakhir, termasuk juga beberapa yang terjadi di Indonesia.

Sebuah situs khusus dibuat untuk para korban victims – www.lionair610.com, di mana keluarga dapat menemukan informasi seputar hak-hak hukum mereka.

Floyd Wisner dapat dihubungi untuk komentar lebih lanjut melalui telepon ataupun Skype

____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

November 1, 2018

Keluarga korban Lion Air 610 berhak akan transparansi

Duka para keluarga yang kehilangan anggota keluarga yang dicintai pada kecelakaan pesawat Lion Air penerbangan 610 akan berubah menjadi amarah dan tuntutan akan jawaban, menurut salah satu pengacara penerbangan terkemuka di dunia.

“Pertanyaan terbesar yang mereka inginkan jawabannya adalah bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi pada pesawat baru seperti itu,” ujar Prinsipal Firma Hukum Wisner di Chicago, Floyd Wisner, yang telah menangani setiap kecelakaan udara besar di Indonesia sejak tahun 1997.

Ia mengimbau kepada para penyelidik untuk mengutamakan sanak keluarga dan terbuka serta transparan sepanjang proses investigasi.

“Meskipun terlihat seperti masalah mekanis, kita tidak boleh langsung mengambil kesimpulan, cukup biarkan prosesnya berjalan.

“Karena itu, saya sungguh berharap jika memang kerusakan pada pesawat tersebut nanti ditemukan, keluarga para korban akan menjadi yang pertama untuk mengetahuinya, karena ini akan membantu mereka dalam masa berduka serta pemulihannya,” katanya.

Wisner, yang mewakili para korban serta keluarga yang terlibat dalam kecelakaan udara Indonesia lainnya, termasuk kecelakaan Lion Air sebelumnya serta Air Asia 8501 tahun 2014 dan Aviastar 7503 tahun 2015, mengatakan bahwa keluarga tidak boleh diremehkan oleh penjamin asuransi perusahaan penerbangan.

“Penjamin asuransi kemungkinan akan klaim bahwa karena ini adalah penerbangan domestik, peraturan di Indonesia yang membatasi kerusakan hingga 1,25 miliar rupiah akan diberlakukan. Namun, pembatasan tersebut tidak berlaku pada Boeing atau produsen komponen manapun.

“Di masa lalu kita telah melihat maskapai penerbangan lebih peduli tentang keuangan mereka daripada para korban, itulah sebabnya penting bagi keluarga untuk mengetahui hak-hak mereka.”

Pengacara tersebut, yang telah menghabiskan hidupnya untuk membantu korban kecelakaan udara, mengatakan bahwa kehilangan orang yang dicintai pada keadaan seperti itu sudah cukup tragis, namun kesedihan tersebut bisa diperingan atau diperberat tergantung dari cara penyelidik memperlakukan para keluarga.

____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

October 31, 2018

Pengacara spesialis penerbangan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban kecelakaan Lion Air JT610 seiring dengan kemungkinan terjadinya kegagalan mekanis

Dengan semakin berkembangnya spekulasi akan adanya kegagalan mekanis pada pesawat Lion Air JT610, salah satu pengacara penerbangan yang telah bekerja sama dengan korban-korban lain dari kecelakaan pesawat yang sebelumnya pernah terjadi di Indonesia, menyatakan rasa turut berbelasungkawa untuk keluarga korban tragedi ini.

Floyd Wisner dari firma hukum Wisner Law yang bermarkas di Amerika Serikat mengatakan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya dengan adanya kecelakaan Lion Air JT610 yang terjadi di sekitar Jakarta, tepatnya di laut Karawang.

“Kami menyampaikan rasa turut simpati dan berdoa untuk seluruh keluarga korban dan kru pesawat yang ditinggalkan, “tambahnya.

Wisner mengatakan bahwa terlalu dini pada saat ini untuk mengetahui apa penyebab pasti kecelakaan tersebut, dan beliau percaya tentunya penyidik akan melakukan investigasi untuk melihat kemungkinan adanya kegagalan mekanis pada pesawat Boeing 737, menimbang bahwa pesawat tersebut baru dioperasikan selama beberapa bulan, dan pilot serta ko-pilot telah berpengalaman.

Berbagai media melaporkan bahwa pesawat mengalami perubahan ketinggian secara eratik sebelum pada akhirnya jatuh ke laut, sementara laporan-laporan lain juga mengklaim data awal bagaimana pesawat merendah dengan kecepatan lebih dari 9400 meter per menit, 20 kali lebih cepat dari kecepatan biasa.

“Informasi tersebut, menambah laporan-laporan masalah teknis di hari-hari sebelumnya, dan tentunya penyidik akan mempertimbangkannya” demikian Wisner menambahkan.

Wisner juga merekomendasikan keluarga korban untuk terus memantau hasil investigasi, dan mengikuti halaman Facebook yang telah disiapkan khusus untuk memberikan informasi-informasi seputar kecelakaan yang terjadi pada pesawat Lion Air JT610 https://www.facebook.com/LionAirFlight610.

“Apabila hasil penyelidikan membuktikan penyebab kecelakaan adalah gagalnya instrumen atau mesin, keluarga korban tentunya bukan hanya menginginkan jawaban, namun juga tanggung jawab dari pihak yang terkait”

Wisner Law tercatat pernah mewakili keluarga korban Lion Air dan beberapa maskapai penerbangan lain, termasuk juga kecelakaan yang menggunakan pesawat Boeing dalam dua dekade terakhir.

Kasus-kasus yang pernah ditangani Wisner Law termasuk Garuda 152 – salah satu kecelakaan mematikan sepanjang sejarah penerbangan, Silk Air tahun 1997 di Palembang, Adam Air 574 di tahun 2007, Garuda 200 tahun 2007, Adam Air penerbangan nomor 292 di Batam tahun 2008, kasus demonstrasi pesawat Sukhoi tahun 2012